Sekilas tentang Cerutu

Cerutu atau Cigar dibuat dari bahan tembakau yang diproses secara natural/alamiah tanpa tambahan bahan kimia apapun.
Cerutu terdiri dari 3 bagian:

1. Filler (Isi); merupakan kombinasi dari 3 bagian daun, yaitu:

– Mild/light flavor – diambil dari daun bagian bawah batang tanaman, disebut dengan istilah “Volado”.

– Medium flavor – diambil dari daun yang berada di bagian tengah batang tanaman, disebut dengan istilah     “Seco”

– Full flavor – diambil dari daun yang berada dibagian atas batang tanaman, disebut dengan istilah “Ligero”

2. Binder (Pengikat), disebut dengan istilah “Capote”

3. Wrapper (Pembungkus), disebut dengan istilah “Capa”. Tembakau yang dipergunakan untuk bagian ini adalah jenis tambakau yang ditanam dan dipelihara secara khusus, dimana perawatan yang paling utama adalah bahwa tembakaunya tidak boleh terkena sinar matahari secara langsung. Itulah sebabnya daunnya sangat elastis.

 

Proses penanaman dimulai dengan proses penyemaian benih pada musim kemarau antara bulan Juni/Juli dan tembakau dipanen setelah 16 – 17 minggu atau ketika tanaman tembakau berumur kurang lebih 4 bulan.

Yang dinikmati dari cerutu adalah aroma dari asapnya serta rasa yang tertinggal saat asap tersebut berada didalam rongga mulut kita. Setiap jenis cerutu memiliki karakteristik yang berbeda antara satu dan lainnya. Mereka yang sering menikmati cerutu akan dapat membedakannya.
Secara garis besar karakter rasa cerutu dapat dibedakan  menjadi 3 katagori besar:
•Mild/Light flavour
•Medium flavour
•Full/strong flavour
Cerutu yang berukuran panjang tidak selalu beraroma dan berasa lebih “tajam” dibandingkan cerutu yang ukurannya lebih pendek/kecil. Rasa yang didapatkan dari sebatang cerutu merupakan gabungan dari racikan/blend daun tembakau yang dipakai, panjang dan besar diameter dari cerutu tersebut. Cerutu berukuran panjang akan membutuhkan waktu lebih lama untuk menikmatinya dibandingkan cerutu berukuran kecil.

Penyimpanan dan perawatan cerutu

•Cerutu tidak mengenal batas kadaluarsa. Di tempat penyimpanan yang benar, cerutu tidak akan mudah rusak, dan seperti halnya wine semakin lama disimpan semakin matang (mature).
•Kondisi cerutu sangat tergantung pada temperatur dan kelembaban udara dimana cerutu tersebut disimpan.
•Temperatur: 16 C – 20 C
•Kelembaban udara: 65% – 70%
•Untuk lebih menjaga kondisi cerutu, sebaiknya cerutu disimpan dalam “humidor”. Humidor harus disimpan di tempat yang terlindung dari sinar matahari, bersuhu sejuk, tidak berbau dan bersih.

Mengenali kondisi cerutu

Ciri cerutu yang berada dalam kondisi baik: Tidak keras (bila ditekan terasa empuk/membal), tidak terasa kering tetapi juga tidak basah.

Tempat Penyimpanan terlalu kering, seperti humidity/kelembaban terlalu rendah dibawah 65%) dan Temperatur terlalu dingin (dibawah 16 C), Keadaan di atas membuat cerutu menjadi keras, kering, sehingga tidak bisa dinyalakan dan susah dihisap. Bila keadaan kering berlangsung lama, bagian luar/wrapper dapat mengelupas

Tempat penyimpanan terlalu lembab: Kelembaban yang terlalu tinggi (diatas 70%),menyebakan cerutu menjadi terlalu lembab sehingga sulit dinyalakan dan lama kelamaan wrapper dapat mengelupas.
Bila kelembaban dan temperatur tinggi atau tidak sejuk (suhu di atas 22 C), cerutu bisa mengalami “fermentasi” yang ditandai munculnya serbuk putih semacam jamur pada permukaan cerutu (jika diusap, serbuk hilang). Cerutu seperti ini masih dapat dinikmati, namun secara penampilan kurang bagus, jadi bersihkan dulu kemudian pindahkan ke ruangan yang lebih sejuk.
Ruangan yang panas dan lembab dapat juga menimbulkan adanya serangga/kutu yang bisa menggerogoti daun tembakau dari bagian dalam sehingga timbul lubang-lubang.

Solusi:

1. Cerutu harus segera dipindahkan supaya tidak menulari yang lainnya.

2.Bersihkan humidor sehingga tidak ada serangga yang tersisa.

3. Pindahkan humidor ke tempat yang dingin dan sejuk (16 – 17 C)

 

Menikmati cerutu

Menikmati cerutu hendaknya dalam suasana yang santai. Pilih cerutu yang sesuai dengan waktu yang kita miliki, agar kita dapat menikmatinya hingga selesai. Menikmati cerutu tidaklah dengan dihisap mendalam hingga masuk paru-paru, melainkan hanya dinikmati aroma dan rasa saat asap cerutu berada dalam rongga mulut.
Abu cerutu tidak perlu dibuang segera, pembakaran yang merata merupakan hasil dari proses penggulungan yang baik. Bila cerutu apinya padam, buanglah dahulu abu yang ada dan nyalakanlah kembali.
Bila telah selesai menikmati, letakan cerutu di asbak, tidak perlu dimatikan seperti mematikan rokok atau dalam istilah umumnya “die with dignity”, api akan padam dengan sendirinya.

SEMOGA BERMANFAAT😀

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: