Don’t do mechanical!

Dalam sebuah kesempatan, secara tidak sengaja saya sempat membaca sebuah surat pembaca di salah satu majalah yang sebenarnya sudah agak usang.

Tidak seperti surat pembaca lain pada umumnya yang berisi keluh kesah, surat itu justru bercerita tentang pengalaman seseorang ketika dia berkunjung untuk kedua kalinya ke suatu hotel yang cukup ternama di sebuah negeri nun jauh disana, setelah mengalami kejadian tidak menyenangkan pada kesempatan kunjungannya yang pertama.

Sebenarnya kunjungannya yang kedua ini adalah untuk memenuhi undangan dari pihak manajemen sebagai kompensasi atas apa yang dialaminya pada kunjungan yang pertama…dengan kata lain, manajemen ingin diberikan kesempatan untuk bisa membalikkan situasi dari negatif menjadi positif image. Sebuah usaha yang patut diacungi 4 jempol…

Dari awal, sebut saja “Bapak A” ini sudah bisa mengira ngira apa yang akan ditemuinya dari awal mula ketika datang. Dia sudah bisa menduga semua staff akan menyapa namanya karena pasti semua sudah diberikan informasi tentang dirinya, nama, kesukaan maupun hal yang tidak disukai serta tidak lupa dan bisa dipastikan semua penyebab kekecewaan pada kunjungan pertamanya idak akan terjadi lagi.

Singkat kata semua yang dia sudah duga sebelum kedatangannya ternyata benar adanya, tetapi kemudian dia menemukan hal baru lagi dari pengalamannya kali ini. Apa yang menggelitik hatinya adalah dia mendapatkan bahwa selama dia tinggal disana, hampir seluruh staff terlalu keras berusaha untuk membuatnya senang sehingga lama kelamaan terasa sangat berlebihan dan membuat kesal.

Contoh kecilnya, mentang mentang dia sangat menyukai buah pisang, hampir disetiap kesempatan bertemu, baik ketika makan pagi di restaurant, daily fruit basket di kamar atau pun sedang santai di lounge, semua staff yang menanganinya selalu menawarkan buah yang sama….Apa tidak ada buah yang lain di hotel ini, pikirnya?

Contoh kecil di atas adalah salah satu contoh betapa kita sering kali melupakan esensi dari nilai hospitality sebenarnya. Seringkali kita yang bekerja di bidang ini terlalu fokus pada usaha untuk membuat tamu kita merasa senang…padahal hal yang lebih penting dari itu semua adalah seharusnya kita meninggalkan kesan melalui interaksi kita dengan para tamu tanpa menjadi seperti robot yang terprogram. Penting bagi kita untuk selalu mengingatkan bahwa “Hospitality is more than just get the job done..”

Esensi dari cerita di atas adalah pengajaran yang tepat bagi seluruh staff bahwa “hospitality is about interaction and beyond” dan bukannya “Do as mechanical” atau “Transactional base only”.

Semoga bermanfaat😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: